Bacaan Hari ini:
1 Sam.16:1-13
Mzm.89:20,21-22,27-285
Mrk.2:23-28
Yesus bersabda: “Hari Sabat diadakan untuk manusia. Bukan manusia untuk hari Sabat.”
Markus 2:27
Saudara-saudara terkasih
Sejarah manusia didasarkan pada hukum, yaitu kesepakatan yang dibuat oleh orang-orang yang hidup bersama pada suatu masa. Seringkali hukum itu dibuat oleh leluhur yang hidup pada masa lampau. Hukum ini disebut tradisi. Ada tradisi yang tetap dipertahankan. Ada yang diperbaharui. Namun, ada pula tradisi yang tidak dipakai lagi dan ditinggalkan. Hukum yang diputuskan oleh lembaga eksekutif juga demikian. Ada yang dipertahankan, diubah, dihentikan penggunaannya. Semestinya, hukum dan tradisi dibuat untuk memperlancar kehidupan masyarakat. Namun, banyak pula orang yang memanfaatkan hukum dan tradisi tadi untuk mempermasalahkan orang lain agar dia bisa berkuasa atas orang itu. Inilah yang dilakukan orang Farisi ketika melihat murid-murid Yesus memetik bulir gandum pada hari Sabat. Kata orang-orang Farisi: " Mengapa murid-murid-Mu berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?" Begitulah memang sikap orang Yahudi terhadap hukum hari Sabat. Namun, perkataan orang Farisi itu bukan hendak mempermasalahkan para murid Yesus. Mereka memakai pelanggaran hari Sabat itu untuk mempermasalahkan Yesus. Mereka mendendam terhadap Yesus yang seringkali mempermasalahkan sikap orang Farisi. Orang Farisi sendiri sering melanggar hukum Taurat. Yesus pernah menegur mereka akan hal ini. Orang Farisi dengan berbagai cara terus menerus berusaha menangkap, bahkan hendak membunuh Yesus. Mempermasalahkan pelanggaran atas hukum Taurat hanyalah jalan untuk menolak Yesus dan karya-Nya di dunia.
Saudara-saudara Terkasih
Yesus mengetahui maksud orang Farisi ketika mempermasalahkan para murid-Nya yang dianggap melanggar hukum Taurat. Jawab Yesus kepada mereka: "Belum pernahkah kamu baca apa yang dilakukan Daud, ketika ia dan mereka yang mengikutinya kekurangan dan kelaparan, bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah waktu Abyatar menjabat sebagai Imam Besar lalu makan roti sajian itu yang tidak boleh dimakan kecuali oleh imam-imam dan memberinya juga kepada pengikut-pengikutnya?" Dengan jawaban itu apakah Yesus menolak hukum Taurat? Dengan bercerita tentang tindakan Daud pada hari Sabat itu, Yesus menyatakan bahwa Daud dan pengikutnya bersalah? Tentu saja tidak. Yesus adalah orang Yahudi yang sangat taat kepada hukum Taurat. Yesus tidak menyetujui sikap orang Farisi yang memaksa orang lain melaksanakan hukum Taurat, tetapi mereka sendiri tidak mau melaksanakannya. Hukum Taurat dipakai orang Farisi untuk menyatakan orang lain bersalah melanggarnya. Orang Farisi tidak menghormati hukum Taurat, tetapi memanfaatkan hukum Taurat. Pelaksanaan hukum Taurat haruslah didasarkan pada keadaan manusiawi pada saat itu. Tidak bisa dengan kaku diterapkan begitu saja.
Saudara-saudara Terkasih
Sikap orang Farisi yang memanfaatkan hukum Taurat tersebut bisa disebut kejahatan suci. Seolah-olah melakukan tindakan yang didasarkan pada hal-hal suci, yang tertulis dalam Kitab Suci, yang dinyatakan dalam ajaran Gereja, sesuai rumusan-rumusan doa. Banyak orang zaman sekarang juga berbuat seperti orang Farisi tersebut. Mereka memakai ajaran Gereja untuk menyatakan orang lain kafir atau berdosa, untuk menyembunyikan perbuatan mereka sendiri yang melanggar Kitab Suci. Tentu saja Yesus menolak sikap tersebut. Yesus bersabda: "Hari Sabat diadakan untuk manusia. Bukan manusia untuk hari Sabat. Anak Manusia adalah juga Tuhan atas hari Sabat." Semua yang tertulis dalam Kitab Suci, ajaran Gereja, rumusan doa memiliki tujuan utama untuk menyelamatkan manusia dari kematian akibat dosa. Semua rumusan suci dimaksudkan sebagai ungkapan kasih Allah kepada manusia. Manusia lebih luhur daripada semua ungkapan suci yang dirumuskan oleh manusia tadi.
REFLEKSI
Apakah kita sibuk untuk menaati rumusan-rumusan beragama?
Apakah kita sudah menyerahkan hidup kepada kehendak Allah?
MARILAH KITA BERDOA
Ya Tuhan, selama ini kami masih sibuk melaksanakan aturan doa dan memaksakan aturan-aturan gereja kepada orang lain. Kami tidak memahami apa sebenarnya kehendak Tuhan melalui hukum-hukum Gereja tersebut. Kami menganggap diri kami sudah suci dan senang jika menyatakan orang lain berdosa. Ajarlah kami untuk rendah hati dengan bertekun melaksanakan perintah-perintah-Mu. Engkaulah Tuhan kami. Kini dan sepanjang masa. Amin.