Broadcast
Atas Nama Bapa, Putra dan Roh Kudus

BERBUAT BAIK ATAU JAHAT?

BC - 12222C | Wednesday, 21 January 2026

Bacaan Hari ini:
1Sam.17:32-33,37,40-51
Mzm.144:1,2,9-10
Mrk.3:1-6

Yesus bersabda: “Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membunuh orang?.”
Markus 3:4

† Dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Amin.
Saudara-saudari terkasih dalam nama Tuhan Yesus Kristus
Pada suatu ketika Yesus masuk ke rumah ibadat. Di situ ada seorang yang mati sebelah tangannya. Orang Farisi mengamat-amati  kalau-kalau Yesus menyembuhkan orang itu pada hari Sabat, supaya mereka dapat mempersalahkan Dia. Kata Yesus kepada orang yang mati sebelah tangannya itu: "Mari, berdirilah di tengah!" Kemudian kata Yesus  kepada Farisi: "Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membunuh orang?" Mereka diam saja. Yesus bersedih karena kedegilan mereka dan dengan marah Ia memandang sekeliling-Nya kepada mereka lalu Ia berkata kepada orang itu: "Ulurkanlah tanganmu!" Orang itu mengulurkannya, maka sembuhlah tangannya itu. Keluarlah orang-orang Farisi dan bersekongkol dengan orang-orang Herodian untuk membunuh Yesus.

Saudara-saudara terkasih 
Banyak orang, khususnya kaum agamawan, merasa diri mereka baik, suci, benar dan menganggap orang lain jelek, berdosa, salah. Apakah mereka tidak melakukan hal-hal yang negatif? Semestinya, sebagai manusia biasa, mereka juga makhluk yang lemah, yang akan terpeleset ke dalam kesalahan. Mereka tahu akan aturan keagamaan, norma masyarakat, hukum negara, sehingga mereka tidak mau dituding sebagai pelanggar. Itulah sebabnya mereka bergegas menunjuk orang lain yang melakukan negativitas tersebut. Hal inilah yang dilakukan orang Farisi. Mereka ahli dalam hukum Taurat dan Kitab Suci. Namun, mereka juga melanggarnya. Agar aman, mereka menuduh Yesus melanggar hukum Taurat. Pada suatu ketika Yesus masuk ke rumah ibadat. Di situ ada seorang yang mati sebelah tangannya. Orang Farisi mengamat-amati  kalau-kalau Yesus menyembuhkan orang itu pada hari Sabat, supaya mereka dapat mempersalahkan Dia.  Jadi, yang dilakukan orang Farisi adalah terus-menerus menguntit Yesus untuk menangkap basah Yesus sedang melanggar hukum Taurat. Banyak dari kita bertindak seperti orang Farisi tersebut. Alih-alih memperbaiki diri sendiri, kita lebih menikmati orang lain terjatuh. Alih-alih menolong orang lain yang terjatuh, kita sering berteriak-teriak menuduh orang itu melanggar hukum. Kebahagiaan kita tidak diletakkan pada upaya kita memperbaiki diri, tapi pada jatuhnya orang. Mungkin kita juga akan menyalahkan Yesus yang sengsara dan wafat di kayu salib, alih-alih menangisi dosa kita.

Saudara-saudara Terkasih
Yesus tidak mau melakukan seperti orang Farisi tersebut. Sebagai orang Yahudi yang taat kepada hukum Taurat, Yesus juga memahami bahwa pada hari Sabat ada tindakan-tindakan yang tidak boleh dilakukan. Namun, bukankah hukum Taurat untuk mengatur hidup bersama agar semua orang selamat. Itulah tugas utama Yesus dengan hadir di dunia ini, yaitu untuk menyelamatkan semua manusia dari kematian akibat dosa. Itulah sebabnya ketika Yesus bertemu orang yang mati sebelah tangannya itu yang segera terpikir adalah menyelamatkannya. Yesus mengesampingkan aturan hari Sabat. Keselamatan seorang manusia terletak pada Yesus, bukan pada hari Sabat. Yesus bersabda kepada orang itu: "Mari, berdirilah di tengah!" Orang Farisi tentu saja tidak suka akan tindakan Yesus itu. Bukan hanya karena penyembuhan itu melanggar hari Sabat saja, tetapi juga karena orang Yahudi akan memuja Yesus dan meminggirkan peran orang Farisi. Peristiwa penyembuhan ini semakin membuat marah orang Farisi. Mereka bersekongkol dengan orang-orang Herodian untuk membunuh Yesus..

Saudara-saudara Terkasih
Tindakan Yesus yang menyembuhkan tersebut mengajarkan kepada kita bahwa perbuatan baik kepada sesama itu lebih daripada sekedar taat kepada hukum. Yesus berkata kepada orang itu: "Ulurkanlah tanganmu!" Orang itu mengulurkannya, maka sembuhlah tangannya itu.  Perbuatan baik itu tidak perlu dipikirkan dalam-dalam. Cukup dengan suatu tindakan nyata secara langsung. Kata Yesus  kepada orang Farisi: "Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membunuh orang?" Sayang sekali, banyak dari kita tidak mengikuti teladan Yesus tadi. Kita tidak peduli dengan banyak orang di sekitar kita yang membutuhkan pertolongan. Jika pun kita tahu, mereka perlu bantuan, kita tidak segera bertindak. Kita lebih tertarik dengan berbagai hal yang menyenangkan diri kita. Kita lebih menikmati mempermasalahkan orang yang perlu bantuan tadi. Kita melupakan bahwa Yesus disalib karena dosa-dosa kita, tetapi kita tidak segera menurunkan Yesus dari salib. Kita menikmati menonton Yesus dari bawah salib. Kita bersemangat berteriak: “Salibkan Dia! Salibkan Dia!”


REFLEKSI
Apakah kita sering iri terhadap orang-orang yang  berbuat baik kepada sesamanya?
Apakah kita tidak bersyukur atas kebaikan Yesus kepada orang yang dikasihi-Nya?

MARILAH KITA BERDOA
Ya Tuhan, kami lebih senang mempermasalahkan orang yang berbuat baik kepada sesama. Kami tidak segera bertindak membantu sesama yang membutuhkan pertolongan. Kesengsaraan orang lain menjadi kebahagiaan kami. Ajarlah kami untuk memiliki hati seperti Yesus yang tergerak untuk membebaskan orang lain dari penderitaan yang dialaminya. Engkaulah Tuhan kami. Kini dan sepanjang masa. Amin.