Bacaan Hari ini:
2Raj.4:18b-21,32-37
Mzm.17:1,6-7,8b,15
Yoh.11:1-45
“Dan ketika mereka terus menerus bertanya kepadaNya, Ia pun bangkit berdiri lalu berkata kepada mereka: “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.”
Yohanes 8:7
† Dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Amin.
Saudara- saudari terkasih dalam nama Tuhan Yesus Kristus,
Hari ini kita disuguhi dengan situasi “miris” yang dilakukan oleh ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Situasinya begini: Pagi-pagi benar Yesus berada di Bait Allah dan seluruh rakyat datang kepadaNya, Ia duduk dan mengajar mereka. Betapa tidak etis, kataku, dalam situasi seperti itu, orang-orang Farisi dan ahlip-ahli Taurat merangsek masuk dan membawa seorang wanita pesakitan yang dikatakan mereka adalah wanita yang kedapatan berbuat zinah. Mereka mengatakan bahwa menurut perintah Musa orang ini harus dihukum rajam. Tetapi mereka meminta pendapat dan sikap Yesus, bukan untuk mencari jawabannya tetapi mencari peluang untuk menjerat Yesus. Tetapi apa yang dikatakan Yesus. Tidak ada. Yesus diam dan membungkuk lalu menulis dengan jariNya di tanah.
Saudara-saudari terkasih,
Diamnya Yesus ini membuat mereka tidak sabar dan mendesak Yesus untuk menjawab mereka. Yesus tahu: kalau Ia mengiakan tuntutan mereka untuk merajam wanita yang kedapatan berbuat zinah, maka Ia akan disebut guru yang kejam; tetapi kalau ia membela wanita yang berdosa menurut hukum Taurat, maka Ia akan dituduh sebagai orang yang tidak menghormati Hukum Musa dan melanggar peraturan leluhur bangsa Yahudi. Namun sungguh di luar dugaan dan sangkaan orang-orang “sok pintar dan sok suci” ini, inilah yang dikatakan Yesus kepada mereka : “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.” Apa yang terjadi? Apakah mereka merajam wanita berdosa itu? Tetapi setelah mereka membaca apa yang dikatakan Yesus, pergilah mereka seorang demi seorang, mulai dari yang tertua. Akhirnya tinggallah Yesus seorang diri dan perempuan itu yang tetap di tempatnya.
Saudara-saudari terkasih,
Perhatikan, betapa bijaksananya Yesus memberikan jawaban kepada orang-orang yang “mengusik” kegiatannnya sedang mengajar di Bait Suci. Dan orang-orang yang ada bersama dengan Yesus itu mendapat tambahan pengetahuan tentang Yesus yang teramat bijaksana menyelesaikan “kasus” yang dibawa oleh orang-orang Farisi dan Ahli-ahli Taurat tersebut. Mereka menyaksikan betapa tenang dan “cool”-nya Yesus mendengarkan “ujian” dan “pertanyaan” mereka. Dia diam bukan karena tidak bisa menjawab, melainkan mencari saat yang tepat dan kata-kata yang bijak untuk menyelesaikan persoalan yang mereka ajukan. Karena terus menerus mendesakNya, lalu Yesus mempersilahkan mereka untuk melakukan perintah Musa dengan satu syarat: “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.” Hanya orang yang tidak berdosa yang boleh melempari wanita berdosa itu dengan batu. Hasilnya? Mereka “ngacir”, mereka “bubar”, mereka pergi satu demi satu mulai dari yang tertua, sebab mereka lebih banyak dosanya. Hanya Allah yang kudus yang boleh menghukum seseorang, bukan mereka dan bukan kita, sebab tidak seorang pun dari antara kita suci dan tidak berdosa. Mereka itu adalah orang-orang yang “merasa” tidak punya salah dan dosa. Yesus menghentak dengan firmanNya dan mereka tersadar dan disadarkan, lalu menghilang satu per satu dari hadapan Yesus.
Saudara-saudari terkasih,
Menarik untuk diperhatikan, bahwa setelah “drama singkat” yang menyita perhatian orang-orang banyak itu, tidak dakhiri oleh penghakiman dari Yesus terhadap wanita pendosa itu. Orang banyak yang sedari pagi mendengar pengajaran Yesus itu mendapatkan “asupan rohani” yang segar: bukan hanya orang yang tidak berdosa saja yang boleh menghukum wanita ini, tetapi mereka juga menemukan sosok Allah yang Maharahim dalam diri Tuhan Yesus. Yesus berkata: “Hai perempuan, di manakah mereka? Tidak adakah seorang yang menghukum engkau?” “Tidak ada Tuhan!”, kata wanita itu. Dan inilah yang dikatakan Yesus: “Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang!” Itulah kata-kata yang kurang lebih sama diucapkan imam di ruang pengakuan dosa waktu kita mengakukan dosa dan kesalahan kita, ketika kita menerima sakramen tobat. Tuhan itu baik, Dia mengerti kedosaan kita.
REFLEKSI:
Apakah aku sudah meluangkan waktu untuk berdamai dengan Tuhan dan bertobat?
MARILAH KITA BERDOA:
Bapa, yang Mahabaik, hari ini Tuhan Yesus menunjukkan kerahiman hatiMu kepada kami. Engkau mengetahui kelemahan dan kedosaan kami. Bantulah kami menyesali dosa kami dan bertobat kepadaMu, demi Kristus Tuhan dan Pengantara kami. Amin.