Bacaan Hari ini:
1Ptr.4:7-13
Mzm. 96:10.11-12.13
Mrk.11:11-26
“Bukankah ada tertulis: Rumah-Ku akan disebut rumah doa bagi segala bangsa? Tetapi kamu ini telah menjadikannya sarang penyamun!"
Markus 11:17
Saudara-saudara terkasih
Perikop yang kita baca hari ini dari Injil Markus seolah-olah terdiri dari dua bagian, yaitu pohon Ara yang tidak berbuah dan Bait Allah yang menjadi tempat berjualan. Jika dicermati, kedua bagian itu memiliki benang merah, yaitu situasi yang tidak sesuai dengan tujuan pohon Arah dan Bait Allah itu diadakan. Pohon Ara diciptakan untuk berbuah. Menyalurkan berkat Tuhan melalui buah-buah yang dihasilkannya. Karena tidak berbuah, berarti tidak menjadi saluran berkat Tuhan. Karena itu Yesus mengutuknya. Bait Allah dibangun sebagai tempat persemayaman Allah di dunia. Maka, Bait Allah adalah tempat suci. Hanya aktivitas yang berhubungan dengan penghormatan akan Allah saja yang diperkenankan dilakukan. Perdagangan yang dilakukan di Bait Allah sungguh tidak sesuai dengan yang diharapkan. Itulah sebabnya Yesus menjadi marah. Yesus marah bukan sekedar karena kondisi psikologis yang tidak nyaman, tetapi karena dunia menolak bekerja sama dengan Allah untuk menciptakan kebaikan. Inilah yang sebenarnya disebut dosa, yaitu menolak Allah.
Saudara-saudara Terkasih
Secara etika sikap marah sering dianggap sebagai tindakan yang tidak semestinya. Namun, perikop hari ini menyampaikan kepada kita bahwa Yesus pun memakai sikap marah untuk mengajar, karena situasi orang-orang yang hendak diajar tidak akan memahami jika memakai ajakan, bujukan, nasehat, sindiran, teguran. Kemarahan ini muncul bukan karena mereka bodoh dan tidak mampu memahami, tetapi terlebih karena mereka tidak mau atau menolak Yesus dan pengajaran-Nya. Apakah dengan cara yang keras sekalipun akan menimbulkan kesadaran dan buah yang diharapkan? Ternyata tidak! Pohon Ara tetap tidak berbuah dan tetap hanya menghasilkan daun-daun. Demikian pula dengan para pedagang di Bait Allah. Bukannya bertobat dan tidak hendak berdagang lagi di situ, mereka bahkan merencanakan untuk membunuh Yesus. Inilah ciri-ciri orang yang tidak hanya bodoh secara intelektual, tapi juga bebal secara iman. Tidak ada suatu cara untuk mengingatkan mereka untuk melihat kebenaran iman.
Saudara-saudara Terkasih
Dengan perikop pohon Ara dan pedagang di Bait Allah di atas Yesus mengajarkan kepada kita untuk hidup sesuai tujuan Allah menciptakan kita. Memahami kehendak Allah saja tidak mudah, apalagi melaksanakannya. Namun, bukan jawaban kekanak-kanakan itu yang diharapkan Yesus. Kehendak Allah ditemukan dalam perjalanan hidup sehari-hari kita. Dalam dorongan-dorongan alamiah yang kita rasakan, terutama berhubungan dengan kebutuhan tubuh Allah berkehendak agar kita mensyukuri berkat badan yang sehat dan menjadi sarana untuk berbuat baik. Dalam hubungan sosial dengan berbagai anggota masyarakat di berbagai kelompok sosial, kita bisa melihat kehendak Tuhan melalui beragam pribadi yang menyempurnakan hidup kita. Dalam hidup berbangsa dan bernegara Tuhan berkehendak kita menjadi warga yang patuh kepada pimpinan, sebelum akhirnya patuh kepada Tuhan. Namun, apa tujuan kita diciptakan di dunia ini? Sabda Yesus: “Rumah-Ku akan disebut rumah doa.” Sabda Yesus ini bukan hanya tentang Bait Allah ataupun tempat ibadah lainnya, tetapi terlebih tentang diri kita. Bukan Yesus juga bersabda: “Tubuhmu adalah bait kudus”. Di mana Tuhan hadir, di situlah kita menghunjukkan doa kita, karena doa adalah komunikasi dengan Tuhan.
REFLEKSI
Apakah kita sudah menjalankan kehendak Tuhan dalam hidup kita?
Apakah kita sudah berdoa?
MARILAH KITA BERDOA
Ya Tuhan, kami berdosa karena tidak mengikuti kehendak-Mu dalam hidup kami. Kami begitu menikmati keinginan kami sendiri. Kami meninggalkan doa kami. Kami menjauh dari-Mu, dari kehendak-Mu, dari bantuan-Mu. Marahlah kepada kami Ya Tuhan agar kami menyadari dosa yang kami buat dan membuka diri untuk pertolongan-Mu. Engkaulah Tuhan kami. Kini dan sepanjang masa. Amin.