Broadcast
Atas Nama Bapa, Putra dan Roh Kudus

BENIH BAIK

BC - 12410N | Tuesday, 28 July 2026

Bacaan Hari ini:
Yer.14:17-22
Mzm..79:8.9.11.13
Mat.13:36-43

Yesus bersabda: “Orang yang menaburkan benih baik ialah Anak Manusia
Matius 13:37

† Dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Amin.
Saudara-saudari terkasih dalam nama Tuhan Yesus Kristus 
Pada suatu ketika Yesus meninggalkan orang-orang yang mengikuti-Nya, lalu pulang. Murid-murid mendatangi-Nya dan memohon penjelasan: “Jelaskanlah kepada kami perumpamaan tentang lalang di ladang itu.” Yesus menjawab: “Orang yang menaburkan benih baik ialah Anak Manusia, ladang ialah dunia. Benih yang baik itu anak-anak Kerajaan dan lalang ialah anak-anak si jahat. Musuh yang menaburkan benih lalang ialah iblis. Waktu menuai ialah akhir zaman dan para penuai itu ialah malaekat. Maka seperti lalang itu dikumpulkan dan dibakar dalam api, demikian juga pada akhir zaman. Anak manusia akan menyuruh malaikat-malaikat-Nya. Mereka akan mengumpulkan segala sesuatu yang menyesatkan dan semua orang yang melakukan kejahatan dari dalam kerajaan-Nya. Semuanya akan dicampakkan ke dalam dapur api. Di sana akan terdapat ratapan dan kertakan gigi. Pada waktu itulah orang-orang benar akan bercahaya seperti matahari dalam Kerajaan Bapa mereka. Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!”

Saudara-saudara terkasih 
Pada hari ini Yesus menjelaskan apa yang menjadi pertanyaan para murid-Nya, yaitu mengapa orang baik diberi kesempatan hidup bersama dengan orang jahat, mengapa Yesus tidak berbuat sesuatu untuk mempertobatkan orang jahat dari dunia ini, seolah Yesus mendukung keberadaan orang jahat di dunia ini. Sekali  lagi, Yesus tidak mungkin menjelaskan secara filsafat-teologis tentang masalah ini. Para murid tidak akan mampu memahaminya. Untuk itulah Yesus menggambarkannya dengan perumpamaan tentang benih gandum dan benih ilalang yang tumbuh bersama di ladang. Ladang, gandum, dan ilalang adalah bagian dari kehidupan sehari-hari para murid sebagai seorang petani. Secara sederhana Yesus menggambarkan bahwa pada awalnya para petani menaburkan benih gandum di ladangnya. Namun, walaupun tidak dikehendaki, benih ilalang juga ikut tumbuh di ladang itu. Masalahnya, benih ilalang itu tumbuh sama suburnya dengan benih gandum tadi. Masalah berikutnya, jika ilalang itu dibabat, ada kemungkinan gandum tadi juga ikut mati. Seperti pada umumnya petani, Yesus pun menganjurkan agar ilalang tadi dibiarkan tumbuh. Ketika gandum itu pada waktunya dipanen, ilalang tadi dipisahkan dan dibuang ke api untuk dimusnahkan. Jawaban tersebut semestinya bisa diterima para murid. Namun, apa yang sebenarnya dikehendaki Yesus dengan perumpamaan tersebut?

Saudara-saudara Terkasih
Bukankah orang baik dan orang jahat sepanjang sejarah manusia selalu ada dan bersama di dunia ini? Bukankah tidak ada seorang pun yang seratus persen jahat dan seratus persen baik? Jika Tuhan membinasakan orang yang jahat, ada kemungkinan si baik juga akan ikut binasa. Namun, yang terpenting bukan maksud Tuhan untuk membinasakan yang jahat, seberapapun jahatnya orang itu. Bukankah dituliskan dalam kitab suci bahwa Tuhan memberikan sinar matahari kepada  siapapun. Bukankah Tuhan tidak menghendaki kematian semua orang. Bukankah Tuhan adalah Tuhan orang hidup, bukan Tuhan orang mati. Jadi, yang penting bagi Tuhan bukanlah kematian orang jahat, tetapi bertobatnya manusia dari kejahatan yang dihidupinya. Tuhan menghendaki agar orang yang meninggalkan diri-Nya, kembali dalam persekutuan dengan Tuhan. Manusia tidak bisa hidup sendiri. Ia harus dalam persatuan dengan Tuhan. Bukankah sudah disampaikan oleh Yesus sendiri bahwa ranting yang sudah terlepas dari batang pohonnya akan menjadi kering dan berakhir dalam nyala api.

Saudara-saudara Terkasih
Jadi, apa yang dikehendaki Yesus dengan perumpamaan tersebut? Orang-orang benar akan bercahaya seperti matahari dalam Kerajaan Bapa mereka. Berkumpulnya anak-anak Tuhan di rumah Bapa adalah inti perutusan Yesus ke dunia. Keselamatan manusia lebih penting daripada kematian orang jahat. Menjadi misteri iman, bagaimana mungkin untuk menyelamatkan manusia, jalan yang ditempuh-Nya adalah dengan sengsara dan wafat di kayu  salib? Di sinilah jalan salib yang harus ditempuh setiap umat Katolik. Sama seperti Yesus, kita umat-Nya juga harus memanggul salib kehidupan kita. Apakah dengan demikian, murid-murid Yesus tidak mengalami kenikmatan hidup di dunia? Bukan itu yang penting. Mengikuti jejak Kristus dan bersatu dengan-Nya, itulah panggilan kita, agar kita tidak seperti ilalang yang dibakar. Masalahnya, ikut memanggul salib bersama Kristus itu tidak mudah dan hanya sedikit orang kudus yang melaksanakannya. Sebagian besar dari kita akan lebih menjauhi salib.
 

REFLEKSI
Apakah hidup kita sudah mengikuti jalan salib Kristus? 

Apakah hidup kita sudah menunjukkan benih gandum yang siap bertumbuh?


MARILAH KITA BERDOA
Ya Tuhan, menjadi pengikut-Mu harus meneladan hidup-Mu sendiri. Jalan yang Kau tawarkan adalah memanggul salib kehidupan kami masing-masing. Namun, kami lebih sering menghindari salib itu. Salib yang seolah menyengsarakan tersebut ternyata menawarkan keselamatan abadi. Sedangkan, tawaran kenikmatan dunia, malah akan membuat kita terbakar dalam nyala api abadi yang terpadamkan. Ajarlah kami menjadi murid Yesus yang sejati. Engkaulah Tuhan kami. Kini dan sepanjang masa. Amin.