Bacaan Hari ini:
2Tes.2:1-3a,13b-17
Mzm.96:10.11-12a.12b-13
Mat.23:23-26
Yesus bertanya kepada mereka: "Menurut kamu, siapakah Aku ini?" Jawab Petrus: "Mesias dari Allah." Lalu Yesus melarang mereka dengan keras, supaya mereka jangan memberitahukan hal itu kepada siapa pun.
Lukas 9:20-21
Saudara-saudari terkasih,
Injil Matius memberi penjelasan yang bagus. Injil Matius menegaskan bahwa Petrus mampu menjawab pertanyaan, tentang siapa Yesus, bukan karena kepandaian Petrus, melainkan semata-mata karena rahmat Allah. Artinya, manusia hanya dapat mengenal Yesus jikalau manusia dekat dengan Allah serta membuka hati dan merendahkan diri. Dan rasul Petrus bersama rasul-rasul yang lain bukanlah orang yang pandai. Mereka hanyalah orang-orang biasa yang membuka hati kepada Yesus. Sebaliknya mereka yang jauh dari Yesus dan tidak mau membuka hati akan sulit bahkan tidak dapat mengenal Yesus dengan benar. Inilah kenyataan yang tidak dipahami oleh orang-orang Israel. Banyak orang-orang di Israel lebih sibuk melihat Yesus sebagai manusia, anak tukang kayu yang miskin dan sederhana. Mata dan hati mereka pun tidak mampu melihat keajaiban-keajaiban dan mukjizat-mukjizat yang Yesus lakukan. Sementara para murid memilih jalan khusus dengan meninggalkan orang tua dan pekerjaannya, demi mengenal Yesus lebih dalam.
Saudara-saudari terkasih,
Pengenalan kita terhadap Tuhan Yesus tidak ditentukan oleh usia dan lamanya kita menjadi pengikut Yesus. Misalnya orang Katolik dan Kristen yang sudah berusia lanjut, belum tentu lebih mengenal Yesus dari pada orang Katolik dan Kristen yang masih kanak-kanak. Demikan pula orang-orang Katolik dan Kristen yang sudah lama dibaptis, belum tentu lebih mengenal Yesus dari pada orang Katolik dan Kristen yang baru dibaptis. Pengenalan kita terhadap Tuhan Yesus lebih banyak ditentukan oleh usaha kita untuk belajar mengenal Yesus dan yang tidak kalah penting ialah rahmat Tuhan. Sebab usaha kita untuk belajar mengenal Yesus, hanya akan sebatas ilmu jikalau tanpa rahmat Tuhan. Tetapi rahmat Tuhan juga tidak bisa bekerja tanpa ada usaha dari kita sendiri. Dengan demikian, kita tidak dapat menyombongkan diri bahwa kita mengenal Allah karena kehebatan serta usaha kita. Karena sehebat apapun, usaha kita akan sia-sia bila tanpa pertolongan dan rahmat Alllah. Pertolongan dan rahmat Allah dapat kita alami jikalau hubungan kita dengan Allah terjalin dengan baik. Hubungan atau relasi dengan Allah dapat dibangun lewat doa.
Saudara-saudari terkasih,
Pertanyaan siapakah Yesus bagi kita, bukan hanya sekedar mau menguji pengetahuan kita. Tetapi ada yang lebih penting, yakni bahwa pertanyaan itu merupakan sebuah pertanyaan iman. Ini berarti jawaban yang kita berikan amat dipengaruhi oleh hubungan kita. Hubungan kita dengan Yesus pun menentukan kualitas iman kita. Semakin dekat dan akrab hubungan kita dengan Yesus, semakin bermutu iman kita. Sebaliknya, semakin jauh kita dari Yesus, semakin kurang bermutu pula iman kita. Hal ini dapat kita lihat dari kehidupan umat Kristiani. Umat Kristiani yang hidupnya dekat dengan Yesus, tidak hanya mengenal siapa Yesus, tetapi juga lebih mantap dan yakin menatap masa depan, walaupun banyak kesulitan dan masalah. Selain itu, umat Kristiani yang hidupnya dekat dengan Yesus, tidak akan mudah digoyahkan. Bahkan dalam sejarah Gereja ada banyak martir, orang mati demi membela dan mempertahankan imannya kepada Tuhan Yesus. Sedangkan umat Kristiani yang hidupnya jauh dari Yesus dan kurang memiliki pengetahuan iman yang memadai dapat dengan mudah digoyahkan imannya lalu meninggalkan Yesus.
REFLEKSI:
Apakah selama ini kita sudah belajar mengenal siapakah Yesus bagi kita, ataukah kita tidak peduli dengan hubungan kita dengan Yesus?
MARILAH KITA BERDOA:
Tuhan Yesus Kristus, Engkau bertanya kepada para rasul siapakah Engkau bagi mereka dan bagi kami. Pertanyaan itu tidak hanya menguji pengetahuan kami, namun juga hendak menguji iman kami. Sebab pertanyaan itu juga menjadi jalan bagi kami menuju keselamatan yang kekal. Doa ini kami persembahkan dalam nama Yesus, Tuhan dan pengantara kami. Amin.